Source : http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=723
Ketika umat ditimpa berbagai macam krisis, baik krisis ekonomi, moral,
akhlaq maupun aqidah, mulailah berbagai macam organisasi dakwah dan
tokoh-tokoh para dai mencari solusi. Mereka berupaya untuk melepaskan
umat dari berbagai macam krisis tersebut.
Sebagian mereka memulainya dengan memperbaiki dari sisi ekonomi.
Sebagian lainnya berpendapat bahwa tidak akan selesai krisis ini
kecuali dengan memperbaiki akhlaq.
Bahkan sebagian yang lainnya mengatakan kita harus menyelamatkan umat
dengan menguasai negara dan memperbaikinya dari sisi politik. Hampir
tidak ada seorang pun di antara mereka yang berpendapat bahwa penyebab
semua krisis itu adalah krisis tauhid dan menyebarnya berbagai bentuk
kesyirikan-kesyirikan yang menimpa umat.
Oleh karena itu apabila ada sekelompok umat yang memulai dakwahnya
dengan memperbaiki sisi tauhid dan memperingatkan umat dari bahaya
kesyirikan, mereka beramai-ramai menganggapnya sebagai orang yang tidak
mengerti sikon (situasi dan kondisi), tidak paham fiqhul waqi’
(kenyataan yang ada), tidak memiliki wawasan politik, tidak mengikuti
zaman dan seabrek tuduhan lainnya. Padahal sesungguhnya bahaya
kesyirikan lebih besar dari bahaya kelaparan dan kekeringan.
Hal itu karena apabila seseorang terjatuh dalam kesyirikan, maka akan
runtuhlah keislamannya dan hilanglah makna kehidupan ini. Bukankah kita
tercipta untuk beribadah kepada Allah dan tidak boleh
mempersekutukan-Nya?. Dengan tauhid dan keimanan yang benar, segala
macam krisis akan dapat diatasi. Dengan ketaqwaan kaum muslimin kepada
Allah, Allah akan bukakan barokah dari langit dan bumi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah
Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi
mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka
disebabkan perbuatannya. (al-A’raaf: 96)
Dengan ayat di atas Allah menjelaskan bahwa jika suatu kaum senantiasa
beriman dan bertaqwa kepada-Nya maka Allah akan memberikan barakahNya.
Tapi sebaliknya jika mereka mendustakan ajaran Allah, kafir, ingkar
kepada Allah dan rasul-Nya, dengan berbuat kesyirikan dan kebid’ahan,
maka barokah tersebut akan tercabut. Ini adalah bahaya kesyirikan di
dunia. Adapun bahaya kesyirikan di akhirat lebih besar lagi. Allah
tidak akan mengampuni pelakunya dan Allah pasti akan mengadzabnya.
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh
ia telah berbuat dosa yang besar. (an-Nisaa’: 48)
Karena itu pula seluruh para nabi memperingatkan umatnya dari
kesyirikan. Nabi Ibrahim, bapak para nabi dan bapak tauhid pun berdoa
meminta kepada Allah agar dirinya dan keturunannya dijauhkan dari
kesyirikan.
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri
ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku
daripada menyembah berhala-berhala. (Ibrahim: 35)
Beliau menjelaskan alasan takutnya beliau dari kesyirikan yaitu karena
peribadatan terhadap berhala telah banyak menyesatkan manusia.
Ya Rabb-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan
kebanyakan daripada manusia. Barangsiapa yang mengikutiku, maka
sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang
mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (Ibrahim: 36)
Jika nabi yang mulia, bapak para Nabi, dan bapak Tauhid mengkhawatirkan
dirinya dari kesyirikan maka tentunya seseorang yang bukan Nabi lebih
dikhawatirkan untuk terjerumus ke dalam kesyirikan-kesyirikan. Berkata
Ibrahim At-Taimi: “Siapakah yang merasa aman dari kesyirikan setelah
Ibrahim?”
Rasulullah r memperingatkan para shahabatnya dari bahaya kesyirikan dengan sabdanya:
Yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil. Para shahabat
bertanya: “Apa itu syirik kecil?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi
wassalam menjawab: “Ar-Riya’”. (HR. Ahmad dan Syaikh al-Albani
menshahihkannya)
Dalam hadits di atas Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam
mengkhawatirkan kesyirikan yang kecil terhadap para
shahabat-shahabatnya yang besar kedudukannya.
Dari sini menunjukkan kalau pada diri shahabat yang mulia masih
dikhawatirkan terjatuh dalam kesyirikan, tentunya terlebih lagi pada
umat yang setelahnya. Karena orang yang setelah mereka jauh lebih
rendah tingkat keimanan, ketaqwaan dan keilmuannya, sehingga sangat
dikhawatirkan akan terjerumus dalam kesyirikan. Tidak hanya
kesyirikan-kesyirikan kecil bahkan sangat mungkin terjerumus dalam
syirik-syirik besar yang akan mengeluarkan mereka dari agamanya tanpa
terasa.
Berarti kita harus lebih takut dan lebih berhati-hati dari bahaya
kesyirikan yang mengancam manusia, karena tidak ada seorang pun yang
dijamin aman oleh Allah dari bahaya tersebut.
Yang lebih mengharuskan kita takut adalah adanya kesyirikan yang sangat
samar. Bagaikan semut hitam di atas batu hitam di malam yang kelam.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
Kesyirikan itu lebih samar dari rayapan semut. Abu Bakar (terkejut) dan
bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : “Wahai
Rasulullah bukankah kesyirikan itu adalah hanya beribadah kepada selain
Allah atau menyeru kepada selain Allah?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi
wassalam menjawab: “Engkau mengecewakan ibumu! Sungguh kesyirikan di
antara kalian lebih samar dari rayapan semut.” (HR. Abu Ya’la dan Ibnul
Mundzir).
Maka kita harus ekstra hati-hati dan harus melindungi diri dari kesyirikan-kesyirikan tersebut dengan dua cara.
Pertama, kita harus selalu berdoa kepada Allah, berlindung dari kesyirikan-kesyirikan tersebut, di antaranya dengan doa (yang artinya):
Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami
ketahui dan kami meminta ampun kepada-Mu dari apa yang kami tidak
ketahui. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Albani dalam Shahih
at-Targhib, 1/19)
Kedua, kita harus mencari ilmu dan belajar, khususnya tentang tauhid
dan syirik. Dengan ilmu tersebut pandangan kita semakin tajam dan jeli.
Dapat melihat kesyirikan sekecil apa pun. Sebaliknya tanpa ilmu sering
manusia terjerumus ke dalam kesyirikan bahkan kesyirikan yang besar
dalam keadaan tidak sadar dan merasa dirinya sedang berbuat baik.
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang
yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia
perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka
bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah
kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan
dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak
mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.
(al-Kahfi: 103-105)
Tanpa ilmu tentang tauhid dan hal-hal yang merusaknya berupa
kesyirikan-kesyirikan kadang manusia mengucapkan satu kalimat yang
dianggap biasa (tidak ada apa-apanya) ternyata menjerumuskan dirinya ke
dalam neraka sejauh tujuh puluh tahun perjalanan. Dalam riwayat lain
dikatakan tersungkur ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
Sesungguhnya seorang hamba berkata dengan satu kalimat, ternyata dengan
kalimat itu ia tersungkur ke dalam api neraka sejauh antara timur dan
barat. (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika seseorang berkata kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam :
مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ
Ini adalah kehendak Allah dan kehendakmu
maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menegurnya dengan keras dan bersabda:
Apakah engkau akan menjadikan aku sebagai tandingan bagi Allah? Bahkan
(katakan) hanya kehendak Allah semata. (HR. Imam Ahmad, Ibnu Abi
Syaibah, Bukhari dalam Adabul Mufrod dan Nasa’i dan Ibnu Majah).
Kesyirikan sangatlah berbahaya, karena dapat mengakibatkan kejelekan-kejelekan di dunia dan di akhirat, diantaranya:
1. Syirik merupakan kedurhakaan kepada Allah. Karena tidaklah manusia
dan jin diciptakan kecuali hanya untuk beribadah kepada-Nya semata.
Tetapi kaum musyrikin justru beribadah kepada selain Allah yang
menciptakannya. Ini adalah kedurhakaan yang besar.
2. Kesyirikan merupakan penghinaan terhadap Allah. Karena seorang yang
beribadah kepada selain Allah berarti dia menyamakan sesembahannya itu
dengan Allah atau mendudukkan makhluk tersebut seperti kedudukan Allah.
Sungguh sebuah penghinaan besar, menyamakan Allah yang menciptakan
seluruh alam dengan ciptaan-Nya yang sangat lemah dan serba terbatas.
3. Kesyirikan akan menggugurkan amalan. Jika sebuah amalan shalih
diiringi dengan riya’, maka akan gugurlah amalan-amalan tersebut dan
tidak bernilai di sisi Allah. Dan jika seorang hamba melakukan syirik
besar, maka akan gugur seluruh amalan-amalannya walaupun amalannya
seperti amalan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. ]الزمر: 65[
Jika kamu mempersekutukan (Rabb-mu), niscaya akan hapuslah amalmu dan
tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (az-Zumar: 65)
4. Syirik menghalangi pelakunya untuk masuk ke dalam surga. Seseorang
yang amalannya gugur dengan perbuaan syirik yang dia lakukan, maka
Allah tidak memberikan balasan sedikitpun terhadap amalan shalihnya.
Bahkan sebaliknya ia akan mendapatkan adzab dari Allah karena
kedurhakaan dan penghinaan kepada Allah dengan kesyirikan yang dia
lakukan. Maka pantaslah Allah mengharamkan mereka –para musyrikin -
tersebut dari surga.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
وَمَأْوَاهُ النَّارَ وَمَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ أَنْصَارٍِ ]المائدة: 72[
Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka
pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka,
tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.
(al-Maidah: 72)
5. Dosa syirik tidak akan diampuni. Jika seseorang mati membawa dosa
syirik dan ia belum bertaubat darinya, maka Allah tidak akan
mengampuninya. Adapun bagi dosa selainnya, maka hal itu di bawah
kehendak Allah yakni masih memungkinkan untuk diampuni oleh Allah.
Sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ. ]النساء: 48[
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. (an-Nisaa’: 48)
Disamping itu masih banyak lagi akibat-akibat jelek yang ditimbulkan
oleh kemaksiatan-kemaksiatan di dunia dan di akhirat yang telah
dijelaskan oleh para ulama. Karena kesyirikan adalah sebesar-besar
kemaksiatan, maka dampak jeleknya adalah paling besar seperti merusak
hati, mengurangi keyakinan dan keimanan, mematikan hati, menyempitkan
dada, menghilangkan ketenangan, menyebabkan hilangnya wibawa, terhina
dan lain-lainnya. Sebagaimana firman-Nya:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى. ]طه: 124[
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya
penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari
kiamat dalam keadaan buta. (Thaha: 124). Wallahu a’lam
(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf, penulis Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli "Bahaya Syirik".